Diskusi Serial bertema “SOP Pemantauan dan Mekanisme Rujukan bagi Ibu Hamil di Posyandu dan Pemerintah Desa” yang difasilitasi oleh Pattiro Malang menjadi ruang pembelajaran penting bagi Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak. Kegiatan ini mendorong desa untuk memperkuat tata kelola layanan kesehatan ibu hamil melalui penyusunan dan pemahaman SOP (Standar Operasional Prosedur) yang lebih kontekstual di tingkat desa.
SOP pemantauan ibu hamil di desa dipahami sebagai pedoman bersama yang menjelaskan siapa melakukan apa, kapan, dan bagaimana dalam mendampingi ibu hamil. Di Desa Sukolilo, diskusi menegaskan bahwa SOP tidak hanya berfungsi sebagai dokumen administratif, tetapi sebagai alat koordinasi antara Posyandu, kader, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa agar pemantauan kehamilan berjalan berkesinambungan.
Melalui forum ini, peserta menyepakati bahwa pemantauan dimulai dari pendataan dan anamnesis sederhana (penggalian informasi kondisi ibu hamil), dilanjutkan dengan pemantauan hasil pemeriksaan, penyampaian KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi), hingga penentuan kebutuhan rujukan bila ditemukan risiko.
Diskusi juga membahas mekanisme rujukan, yaitu proses mengalihkan pelayanan ibu hamil ke fasilitas kesehatan yang lebih mampu ketika ditemukan risiko. Di Sukolilo, mekanisme rujukan dirumuskan secara bertahap: koordinasi awal di tingkat desa, konfirmasi kondisi ibu hamil bersama tenaga kesehatan, pendampingan keluarga, hingga rujukan ke puskesmas atau rumah sakit bila diperlukan.
Pendekatan ini menekankan pentingnya pendampingan, agar keluarga memahami alasan rujukan dan tidak merasa ditinggalkan dalam proses pengambilan keputusan. Dengan penjelasan yang sederhana dan berulang, rujukan diposisikan sebagai upaya perlindungan, bukan sebagai tanda kegagalan perawatan di desa.
Diskusi mengungkap sejumlah tantangan yang kerap dihadapi, seperti keterbatasan biaya, dukungan keluarga yang belum optimal, pemanfaatan ambulans desa yang belum maksimal, hingga kendala administrasi seperti kepesertaan BPJS yang tidak aktif. Tantangan ini dibahas secara solutif, dengan mendorong desa untuk memperkuat koordinasi lintas peran serta memanfaatkan potensi dukungan yang ada di tingkat lokal.
Salah satu praktik baik yang mengemuka adalah komitmen Desa Sukolilo untuk menyusun alur kerja pemantauan dan rujukan yang jelas, mulai dari Posyandu, kader, hingga pemerintah desa. SOP diharapkan menjadi rujukan bersama yang memudahkan kerja lapangan sekaligus meningkatkan akuntabilitas layanan.
Melalui Diskusi Serial ini, Desa Sukolilo menunjukkan bahwa penguatan SOP pemantauan dan mekanisme rujukan ibu hamil dapat dilakukan secara bertahap dan kolaboratif. Dengan pendekatan yang ramah masyarakat dan berbasis pembelajaran bersama, desa memiliki peran strategis dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi, sekaligus memperkuat sistem kesehatan di tingkat akar rumput.