Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman senyap di banyak desa. Obat sebenarnya tersedia gratis melalui Puskesmas. Namun faktanya, kasus TBC terus muncul—bahkan terlambat ditangani. Di sinilah missing link itu berada: bukan pada ketersediaan obat, melainkan pada keberanian warga untuk memeriksakan diri dan ketekunan desa dalam melacak kasus secara aktif. Dengan pendekatan tepat, anggaran kecil—bahkan hanya Rp5.000.000—dapat menjadi pemantik gerakan penyelamatan nyawa berbasis komunitas.
Artikel ini ditujukan sebagai bahan advokasi dan rujukan praktis bagi desa, Musdes, dan penyusun RKPDes, sekaligus pembelajaran publik yang didorong oleh PATTIRO Malang.
Selama ini, desa kerap beranggapan bahwa penanganan TBC adalah urusan layanan kesehatan semata. Padahal, hambatan terbesar justru terjadi sebelum warga tiba di Puskesmas. Banyak warga takut diperiksa karena stigma, khawatir kehilangan pekerjaan, atau tidak memahami gejala awal. Akibatnya, penderita tetap beraktivitas, menularkan penyakit di rumah tangga dan lingkungan sekitar.
Di sinilah peran Kader Kesehatan menjadi krusial. Mereka adalah wajah desa yang dipercaya, memahami budaya setempat, dan mampu mengetuk pintu rumah warga—secara harfiah maupun sosial.
Simulasi berikut menunjukkan bagaimana Rp5.000.000 dapat dioptimalkan tanpa membeli alat medis (yang merupakan porsi Puskesmas):
Total: Rp5.000.000—dialokasikan melalui Musdes dan dimasukkan dalam RKPDes sebagai kegiatan promotif-preventif kesehatan.
Pelacakan aktif oleh kader mengubah paradigma “menunggu pasien” menjadi “menjemput keselamatan”. Dengan kunjungan rumah, kader:
Langkah ini memutus rantai penularan lebih cepat, menurunkan risiko kasus berat, dan menyelamatkan nyawa—sebelum terlambat.
TBC yang terlambat ditangani sering berujung pada sakit kronis. Kepala keluarga kehilangan penghasilan, anak putus sekolah, dan desa menanggung beban sosial lebih besar. Sebaliknya, deteksi dini menjaga warga tetap produktif, mengurangi hari kerja yang hilang, dan menekan kemiskinan baru.
Investasi Rp5 juta ini bukan sekadar belanja kegiatan, melainkan asuransi sosial bagi desa—melindungi kesehatan sekaligus ekonomi warganya.
Gerakan pintu ke pintu membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukan alasan untuk pasif. Dengan strategi taktis, keberpihakan pada kader, dan keputusan Musdes yang tepat, desa dapat menjadi garda terdepan penyelamatan nyawa dari TBC. Rp5 juta mungkin kecil di atas kertas, tetapi di lapangan, ia bisa berarti satu keluarga tetap utuh dan satu desa tetap produktif.