paya penanggulangan Tuberkulosis (TBC) tidak hanya diukur dari angka kesembuhan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat berani terlibat dan mengambil peran dalam memutus rantai penularan. Pengalaman program berbasis komunitas yang difasilitasi PATTIRO Malang di Kabupaten Malang menunjukkan bahwa pendekatan sosial yang tepat mampu menghadirkan dampak nyata hingga ke tingkat keluarga.
Selama ini, tantangan utama penanggulangan TBC di tingkat komunitas bukan terletak pada ketersediaan obat, melainkan pada stigma dan ketakutan. Banyak keluarga memilih menutup diri karena khawatir dicap sebagai sumber penularan. Akibatnya, kasus-kasus suspek TBC kerap terlambat terdeteksi dan berisiko menularkan ke lingkungan sekitar.
Melalui praktik active case finding berbasis Pengawas Menelan Obat (PMO) yang diterapkan di Kecamatan Kepanjen, pendekatan tersebut mulai berubah. PMO yang sebelumnya hanya berperan mengawasi kepatuhan minum obat, diperkuat kapasitasnya untuk mengidentifikasi kontak erat pasien TBC secara aman dan beretika. Dengan pendampingan puskesmas dan kader kesehatan, PMO mampu menjangkau ruang-ruang privat keluarga yang selama ini sulit disentuh oleh layanan formal.
Dampak awal dari pendekatan ini terlihat jelas. Sejumlah suspek TBC berhasil diidentifikasi melalui pendataan kontak erat dan langsung ditindaklanjuti dengan pengambilan dahak secara jemput bola. Proses ini tidak hanya mempercepat penemuan kasus, tetapi juga mengurangi beban psikologis keluarga karena mereka tidak lagi harus datang sendiri ke fasilitas kesehatan.
Lebih dari sekadar temuan kasus, perubahan sikap masyarakat menjadi dampak paling signifikan. PMO yang sebelumnya merasa malu dan takut, kini mulai melihat perannya sebagai bagian dari upaya melindungi lingkungan sekitar. Keluarga pasien pun merasa lebih didampingi dan tidak lagi sendirian menghadapi penyakit ini.
PATTIRO Malang memandang perubahan perilaku ini sebagai fondasi penting dalam penanggulangan TBC. Ketika masyarakat diberi ruang, kepercayaan, dan kapasitas, mereka mampu menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar objek program. Pendekatan berbasis komunitas ini juga membuktikan bahwa intervensi berbiaya relatif rendah dapat menghasilkan dampak besar jika dirancang sesuai konteks sosial.
Pengalaman di Kabupaten Malang menegaskan bahwa eliminasi TBC membutuhkan kerja bersama yang berpijak pada kemanusiaan, kolaborasi, dan keberanian menembus stigma. Program ini menjadi contoh bahwa penguatan komunitas adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan publik dan keselamatan warga.
dokumentasi pattiro malang dalam fasilitasi program TBC:


