Bangkit dari Pekarangan: Reaktivasi KWT Semi Lestari Dorong Ketahanan Pangan dan Gizi Keluarga di Sananrejo

Kelompok Wanita Tani (KWT) Semi Lestari kembali menunjukkan denyut kehidupan baru di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Desa yang berjarak sekitar 36 kilometer dari pusat Kabupaten Malang ini memiliki luas kurang lebih 340 hektare, terbagi dalam tiga dusun—Krajan, Betek, dan Rekesan—dengan 9 RW dan 46 RT. Hampir separuh wilayah desa merupakan lahan pertanian persawahan, dengan komoditas utama padi dan jagung, yang menjadikan Sananrejo memiliki potensi besar dalam penguatan pangan lokal.

Sejarah Singkat dan Tantangan Awal

KWT Semi Lestari dibentuk pada 2019 sebagai bagian dari Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang diinisiasi Pemerintah Desa Sananrejo bersama Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang dan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Turen. Beranggotakan sekitar 30 perempuan, kelompok ini mengelola pekarangan rumah untuk menanam sayuran, tanaman obat keluarga (toga), serta pangan bergizi seperti bayam, kol, terong, cabai, dan bit.

Namun, keterbatasan sarana air dan menurunnya partisipasi anggota sempat membuat kegiatan kelompok terhenti. Dalam masa vakum tersebut, hanya Ketua KWT, Ibu Gati, yang tetap konsisten mengelola kebun pekarangannya secara mandiri.

Kolaborasi Menghidupkan Kembali Kelompok

Momentum perubahan hadir pada September 2025 melalui Program Desa Sehat yang difasilitasi Pattiro Malang dengan dukungan YAPPIKA ActionAid. Kepala Desa Sananrejo, Hj. Erna Yustining, mengambil peran strategis dengan mendorong kebijakan reaktivasi KWT, termasuk memfasilitasi akses air melalui pendaftaran layanan HIPAM agar kebutuhan irigasi kebun terpenuhi.

Pendampingan tata kelola administrasi dan keuangan dilakukan oleh Kaur Kesejahteraan Rakyat Desa, sementara aspek teknis budidaya diperkuat oleh Penyuluh Pertanian BPP Turen. Melalui pelatihan rutin, anggota KWT dibekali pengetahuan pengelolaan media tanam, pembuatan pupuk organik dari limbah rumah tangga, hingga budidaya ikan lele sebagai upaya diversifikasi usaha.

Ketua KWT Semi Lestari, Ibu Gati, menjadi motor penggerak utama dalam merekrut anggota baru dan memastikan aktivitas kelompok berjalan berkelanjutan. “Pendampingan dan dukungan desa memberi kami semangat baru. Panen sayur dan lele membuktikan kerja bersama ini nyata manfaatnya bagi pangan dan gizi keluarga,” ungkapnya.

Dampak Nyata bagi Kesehatan dan Ekonomi Warga

Pasca-reaktivasi, KWT Semi Lestari berhasil mengelola kebun gizi di RW 07 secara produktif. Hasil panen sayuran secara rutin dimanfaatkan untuk mendukung layanan Posyandu di lokasi yang sama, sehingga berkontribusi langsung pada pemenuhan gizi ibu dan anak. Sementara itu, budidaya ikan lele telah menghasilkan panen perdana senilai sekitar Rp. 2.000.000 yang seluruhnya diputar kembali sebagai modal usaha kelompok.

Inspirasi Pembangunan Berbasis Komunitas

Kisah bangkitnya KWT Semi Lestari menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor—pemerintah desa, pendamping teknis, dan organisasi masyarakat sipil—dalam memperkuat ketahanan pangan, pemberdayaan perempuan, serta kualitas kesehatan keluarga. “Ini bukan sekadar menanam sayur, tetapi menanam harapan bagi masa depan masyarakat Sananrejo,” tutur Kepala Desa Hj. Erna Yustining.

Pengalaman KWT Semi Lestari menjadi praktik baik yang relevan untuk direplikasi desa lain. Dengan pendekatan partisipatif, teknologi sederhana, dan sinergi yang terencana, pekarangan rumah dapat menjadi sumber perubahan besar. Dari ruang kecil itulah, tumbuh harapan baru bagi pangan, gizi, dan kesejahteraan keluarga desa.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like