Penanggulangan TBC membutuhkan lebih dari sekadar obat dan layanan kesehatan. Ia menuntut inovasi sosial yang mampu menjawab tantangan stigma, keterbatasan sumber daya, dan kompleksitas relasi sosial di tingkat desa. Inilah pembelajaran utama dari program yang difasilitasi PATTIRO Malang.
Salah satu inovasi kunci adalah reposisi peran PMO. Selama ini PMO dipahami sebatas pengawas kepatuhan minum obat. Melalui program ini, PMO diperkuat kapasitasnya sebagai agen penemuan kasus dan edukator keluarga. Dengan alat bantu sederhana dan pendampingan berkelanjutan, PMO mampu melakukan skrining kontak erat tanpa melanggar prinsip kerahasiaan pasien.
Pembelajaran penting lainnya adalah perubahan paradigma. PMO tidak lagi diminta “mencari orang sakit”, tetapi “menemukan sumber penularan”. Pergeseran narasi ini terbukti menurunkan resistensi dan rasa takut, sekaligus meningkatkan partisipasi komunitas.
Dari sisi kelembagaan, program ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Dengan koordinasi yang baik antara CSO, puskesmas, dan kader kesehatan, pendekatan jemput bola dapat dijalankan secara efektif. Tantangan seperti keterbatasan waktu dan sumber daya justru melahirkan kreativitas dalam desain intervensi.
PATTIRO Malang mencatat pembelajaran ini sebagai modal penting untuk replikasi di wilayah lain. Inovasi sosial berbasis komunitas membuka peluang besar bagi desa-desa untuk berkontribusi nyata dalam eliminasi TBC, bahkan dengan anggaran yang terbatas.
dokumentasi fasilitasi Pattiro Malang dalam program TB:

