Upaya pencegahan stunting dan peningkatan kesehatan ibu terus diperkuat di tingkat desa. Melalui Program Desa Sehat 2025, PATTIRO Malang menggelar Pelatihan Kader Posyandu dalam Pemantauan Aktif Kesehatan Ibu di Balai Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Selasa (25/2/2025).
Kegiatan ini diikuti 40 kader Posyandu dan Kader Pembangunan Manusia (KPM) dari Desa Sananrejo dan Gedogwetan. Seluruh peserta merupakan perempuan yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan dasar di desa. Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas kader dalam memantau kesehatan ibu hamil secara aktif, sekaligus meningkatkan pemahaman tentang gizi kehamilan sebagai langkah pencegahan stunting sejak dini.
Dalam sesi materi, narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang menyampaikan pentingnya pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC) sesuai standar. Kader dibekali pemahaman mengenai jadwal kunjungan kehamilan, pemeriksaan dasar ibu hamil, imunisasi, serta pengenalan tanda bahaya kehamilan. Pelatihan juga dilengkapi dengan simulasi sederhana pemeriksaan ANC untuk meningkatkan keterampilan praktis kader.
Sementara itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Malang menekankan aspek gizi ibu hamil dan peran keluarga. Materi mencakup kebutuhan gizi esensial, pentingnya konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), serta teknik konseling gizi sederhana yang dapat dilakukan kader di tingkat rumah tangga.
PATTIRO Malang memandang kader Posyandu sebagai aktor kunci dalam sistem kesehatan desa. Melalui pelatihan ini, kader tidak hanya diharapkan mampu mencatat dan melaporkan kondisi ibu hamil, tetapi juga aktif melakukan edukasi dan pendampingan kepada keluarga. Pemantauan aktif oleh kader dinilai penting untuk memastikan ibu hamil mendapatkan layanan kesehatan tepat waktu serta mencegah risiko komplikasi kehamilan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun fondasi sistem pemantauan kesehatan ibu hamil berbasis desa. Ke depan, PATTIRO Malang mendorong adanya pendampingan berkelanjutan dan sinergi antara kader, pemerintah desa, dan layanan kesehatan agar upaya pencegahan stunting dapat berjalan lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

